Buka puasa atau balas dendam?
Berhubung ini bulan puasa, jadi kali ini saya membuat tulisan yang berkaitan tentang puasa yakni ‘Berbuka Puasa’.
Ketika saya sebutkan kata ‘Berbuka Puasa’ apa saja yang terpikirkan oleh kalian? Pasti banyak ya, meluas. Ada yang memberi atau diberi ucapan selamat berbuka, terpikir takjil serta menu berbuka, doa berbuka puasa, dan masih banyak lagi.
Nah kali ini saya akan membahas mengenai takjil, atau menu berbuka puasa.
Tak bisa dipungkiri, kerap kali orang yang berpuasa ketika menjelang maghrib atau bahkan sore hari sudah memikirkan akan berbuka dengan menu apa? terutama ibu rumah tangga. Tak perlu banyak yang penting ada yang bisa disajikan, begitu yang dipikirkan.
Namun lain hal nya dengan pemikiran ibu-ibu atau orang tua, ketika puasa kita umumnya akan merasa seperti menginginkan segala sesuatu yang menyegarkan ketika terlihat oleh mata, rasa ingin membeli segala jenis jajanan yang ada.
Saat berpuasa kita menahan lapar dan dahaga, hal ini membuat kita memiliki banyak keinginan untuk makan dan minum apa saja ketika berbuka nanti setelah kita menahannya seharian. Padahal, ketika sudah berbuka hanya beberapa suap makanan serta minum pun sudah cukup mengisi perut.
Saya ada sedikit cerita mengenai berbuka puasa.
Sebut saja dia Fariz, usianya 12 tahun. Dia memiliki adik laki-laki bernama Farid, usianya baru 5 tahun. Fariz sudah mulai puasa sejak dia berusia 6 tahun walaupun masih bolong-bolong atau terkadang juga motel. Puasanya mulai penuh saat dia berusia 8 tahun.
Sekarang dia sudah kelas 6 Sekolah Dasar, usianya juga sudah terbilang cukup. Baginya menahan lapar dan dahaga bukanlah masalah, selain itu ayah ibunya juga sudah mengajarkannya selain menahan lapar dan dahaga orang yang berpuasa juga perlu menahan hawa nafsu. Namun di hari pertama puasa tahun ini Fariz mendapatkan pelajaran yang sangat penting.
Sore itu Fariz sedang membaca buku di depan rumahnya. Dia sudah mengerjakan beberapa pekerjaan rumah, dia rasa akan lebih baik jika dia menunggu berbuka puasa sambil membaca buku. Beberapa lama kemudian lewatlah tukang bubur kacang hijau langganan nya, Fariz pikir akan nikmat rasanya jika ia berbuka dengan bubur kacang hijau kesukaannya. Maka dia pun membelinya.
Setelah meletakkannya di kulkas ia kembali duduk di depan rumah, baru membaca beberapa halaman pandangannya teralihkan pada Farid yang tengah asik makan es buah dan bakso bakar di depan pintu. Dia kembali berpikir pasti akan lebih lengkap rasanya jika sebelum makan bubur dia bisa makan es buah dan bakso bakar lebih dulu. Dia pun kembali membeli es buah dan bakso bakar yang tak jauh dari rumahnya.
Setelah meletakkannya di meja makan ibu nya sempat memperingatkannya untuk tidak membeli makanan lagi karena ibunya sudah menyiapkan kolak pisang dan beberapa macam gorengan, Fariz lekas mengiyakan dan kembali duduk di depan rumah.
Namun siapa sangka, beberapa lama kemudian kembali lewat tukang sate di depan rumahnya. Dia ingin sekali makan sate, tapi dia juga teringat akan perkataan ibunya tadi. Dilain sisi dia pikir tidak ada salahnya jika dia membelinya, dia akan berbagi dengan adiknya nanti pikirnya. Akhirnya Fariz membeli sate itu.
Tiba saatnya berbuka, semua sudah kumpul di meja makan, ayahnya terkejut melihat banyaknya makanan yang Fariz beli.
“Ibu kan sudah buat makanan, kamu nggak tahu?” tanya sang ayah.
Fariz terdiam sejenak, “Fariz tahu yah, tapi Fariz juga pengin makan ini”
“Semuanya? Memangnya habis?” tanya ayahnya lagi.
“Nanti Fariz bagi Farid juga, makan sama-sama” sahutnya sambil makan bakso bakar dan sop buah nya. Setelah habis ia kembali memakan bubur, baru beberapa suap dia sudah kekenyangan. Perutnya terasa begitu penuh.
Ayah nya hanya menggeleng pelan.
“Tadi ibu sudah ingatkan, kan? Jangan beli ini itu, ibu kan sudah buat makanan. Kalau mau beli ya sekedarnya, jangan semuanya dibeli. Ini belum lagi makan nasi. Farid kan nggak puasa, dia juga sudah kenyang makan dari tadi. Lagian kamu mau buka puasa atau dalam dendam?” ucap ibu nya menasehati.
“Iya bu, Fariz minta maaf ya bu, besok Fariz nggak akan ulangi lagi. Perut Fariz sakit bu, izin nggak tarawih ya?”
“Kali ini saja ya, jadikan pelajaran. Jangan serakah, semuanya mau dimakan.” Sahut ayah menimpali.
Nah sampai sini ngerti kan? Memang saat puasa ada banyak sekali yang kita inginkan, tapi kita juga harus tahu batasannya. Karena puasa selain menahan lapar dan dahaga, kita juga dituntut untuk menahan hawa nafsu atau keinginan, yakni segala macam keinginan yang berlebihan atau yang tidak baik. Semoga dari cerita tersebut dapat kita ambil hikmahnya bersama, semoga bermanfaat.

0 Response to "Buka puasa atau balas dendam?"
Post a Comment